"Perubahan itu perlu. Menjadi lebih baik adalah cita-cita mulia. Mari bersama memperbaiki diri, baik sebagai hamba Allah, sebagai Anak, sebagai Suami, sebagai Istri, sebagai Orang Tua atau pun sebagai Aparatur. Berubah menjadi lebih baik itu bukan sebuah hukuman. Justru sebuah berkah untuk kehidupan yang lebih berkualitas"

Sabtu, 18 Maret 2017

Nurani, Korupsi dan Kemiskinan

Bukan rahasia jika birokrasi di negara ini dikenal tambun sehingga bergerak lamban. Struktur birokrasi yang panjang berliku membuat urusan tidak pernah berjalan mudah. Perbaikan birokrasi yang menjadi salah satu cita-cita reformasi terdahulu seakan tak sebanding dengan waktu yang telah dihabiskan. Rakyat masih saja disugguhi kesukaran. Bukan hanya dipusingkan dengan liku-liku birokrasi, tetapi juga acapkali menemui aparatur yang lebih mirip ‘raja’ ketimbang pelayan.

Memaknai Pertumbuhan Ekonomi

Tidak mudah memaknai indikator yang satu ini. Indikator yang acapkali disebut-sebut dalam setiap kesempatan diskusi seputar ekonomi makro. Indikator yang dianggap sebagai barometer utama pengukur geliat aktivitas ekonomi pada wilayah regional tertentu. Indikator ini pula yang diyakini mampu merefleksikan capaian kinerja pembangunan ekonomi para pengambil kebijakan. Ya, dialah pertumbuhan ekonomi, yang dalam suatu kesempatan dapat menjadi pedang bermata dua bagi pelaksana amanah rakyat.

Kamis, 22 September 2016

Jangan Lupakan Petani




Tidak dapat dikilah, lebih dari separuh penduduk yang bekerja di negeri ini merajut asa di sektor pertanian. Tidak terkecuali di Bengkulu. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) terkini, setidaknya 50,61 persen pekerja di Bengkulu adalah petani. Umumnya, para petani ini tinggal di wilayah pedesaan yang jauh dari kesan berkemajuan. Merekalah yang hujan kepanasan, panas kehujanan, berjibaku menyediakan kebutuhan dasar perut manusia perkotaan. Sangat naif, jika kita tak sengaja melupakan nasib para petani.

Vitalnya peran sektor pertanian tergambar pula dari kontribusinya terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) di Bengkulu. Pada tahun 2015 saja, kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB tidak kurang dari 30 persen. Bahkan, angka tersebut dua kali lipat lebih tinggi dari sektor perdagangan dan reparasi yang menempati posisi dua kontributor terbesar terhadap PDRB. Fakta tersebut jelas membuka mata kita bahwa melupakan petani adalah sebuah kekeliruan.