Sebagian Masyarakat
Bengkulu barangkali telah mendengar Visit Bengkulu 2020. Sebuah program
pemerintah untuk mengembangkan sektor pariwisata dengan meningkatkan kunjungan
wisatawan ke destinasi-destinasi wisata di Bengkulu. Puncak acaranya akan
berlangsung pada tahun 2020 ketika Bengkulu genap berusia 52 tahun. Secara
ekonomi, program besar tersebut diharapkan memberi efek pengganda ekonomi bagi
daerah. Dalam benak penulis, Bengkulu akan menjadi salah satu tujuan wisata
ternama. Wisatawan beralalu lalang, akan hilir mudik menyusuri jalan Bengkulu
dari satu destinasi ke destinasi yang lain. Wisatawan membeli Lempok Bengkulu,
pulang membawa Kain Besurek dan foto destinasi wisata Bengkulu viral di
media sosial.
Dengan potensi puluhan
objek wisata yang ada, pariwisata memang tergolong rasional menjadi unggulan di
Bengkulu. Sepanjang dikelola dengan tepat. Mulai dari wisata alam, wisata
budaya dan obyek wisata bersejarah. Pantai panjang dengan bentangan pasir putih
7 km, Bukit Kaba, arung jeram, air terjun, benteng peninggalan penjajah, rumah
pengasingan adalah sedikit contohnya. Pertanyaannya, seberapa siap faktor
pendukungnya?
Statistik Terkini
Data awal (starting point) diperlukan sebagai pijakan menuju 2020. Menurut Guru
Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada yang juga pakar pariwisata, Prof
Dr Wiendu Nuryantie, ada tiga parameter penting untuk mengukur kinerja
pariwisata, yaitu jumlah kunjungan wisman dan wisnus, lama tinggal, dan jumlah
pembelanjaan wisatawan. Jika dua dari tiga parameter menunjukkan kenaikan, itu
keberhasilan dari upaya marketing. Sementara
rendahnya pembelanjaan wisman, menandakan rendahnya kualitas destinasi (Kompas,
19/10/2010).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan
bahwa jumlah tamu yang menginap di
Bengkulu sepanjang 2015 sebanyak 366.888 orang dengan rincian tamu asing
sebanyak 838 orang dan sisanya tamu domestik sebanyak 366.050. Sebagai
pembanding, jumlah tamu yang menginap di Lampung 3 kali lebih banyak, dengan
rincian tamu mancanegara sebanyak 11.139 orang dan tamu domestik sebanyak 1.158.661
orang. Mari kita lirik Bali, sebagai salah satu ikon pariwisata dunia, pada
tahun yang sama jumlah tamu yang menginap di Bali lebih dari 5,4 juta orang, hampir
15 kali lebih banyak, dengan rincian tamu asing lebih dari 3,7 juta orang dan
tamu domestik sebanyak 1,6 juta-an orang. Hanya Bali yang jumlah tamu
mancanegara melebihi tamu domestik.
Parameter berikutnya adalah rata-rata
lama tinggal. Pada tahun 2016, rata-rata lama tinggal penghuni kamar hotel berbintang
di Bengkulu selama 1,54 hari. Sementara Lampung selama 1,74 hari dan Bali,
nyaris dua kali lipatnya, yakni 2,91 hari.
Parameter terakhir adalah pembelanjaan
wisman. Selain menggambarkan kualitas destinasi, parameter pembelanjaan wisman
menunjukkan besarnya capital in flow ke
daerah. Sayangnya, paramater terakhir ini relatif sulit mendapatkan datanya.
Data penting lainnya adalah Tingkat
Penghunian Kamar (TPK) hotel. Sepanjang 2016, rata-rata TPK hotel berbintang di
Bengkulu sebesar 58,80 persen, lebih tinggi ketimbang Lampung yang terisi sebesar
53,50 persen. Sementara Bali, TPK nya mencapai 61,71 persen. Dengan catatan, jumlah
hotel berbintang di Bengkulu sebanyak 8 hotel (147 nonbintang), lebih sedikit
ketimbang Lampung sebanyak 12 hotel (227 nonbintang). Sementara Bali, nyaris 36
kali jumlah hotel berbintang di Bengkulu, yakni 281 hotel (1.798 nonbintang).
Tantangan
Melihat data statistik tersebut, rupanya
ada tantangan menarik mengejar Bali, atau setidaknya melesat meninggalkan
Lampung. Ada beberapa faktor yang memerlukan perhatian serius untuk mewujudkan
pariwisata mendunia. Menurut Prof Wiendu, untuk mengelola potensi menjadi
destinasi setidaknya diperlukan keterpaduan akses, atraksi, sarana-prasarana,
fasilitas pendukung, akomodasi, sumberdaya manusia dan citra atau image.
Visit Bengkulu 2020 sekiranya adalah
pintu pembuka bagi masuknya wisman secara berkelanjutan. Sebab, jika
menginginkan efek pengganda yang berarti, maka wisman adalah sasaran empuk
ketimbang wisatawan domestik apalagi pengunjung lokal. Untuk menarik wisman
masuk ke Bengkulu, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. Mantan menteri pariwisata, Jero Wacik,
mengatakan bahwa wisman menjadikan Bali sebagai tujuan wisata karena lima
kriteria, yaitu kekuatan alam, budaya, manusia yang welcome, makanan, dan value
(Kompas, 19/10/2010).
Untuk memenuhi
kriteria tersebut kita harus menaklukan semua tantangan yang ada. Penulis
membagi tantangan tersebut ke dalam dua kelompok besar, yakni tantangan fisik
dan nonfisik. Fisik menyangkut infrastruktur dan nonfisik berkaitan dengan
kultur masyarakat yang menciptakan citra/image.
Pertama, fisik. Persoalan klasik infrastruktur tampaknya
masih menempati posisi teratas. Setidaknya terkait jalan, angkutan umum, dan
kelistrikan. Selain
itu, keberadaan fasilitas pendukung juga tak dapat dikecilkan artinya.
Fasilitas yang langsung berkenaan dengan objek wisata itu sendiri, seperti
ketersediaan mushola, toilet dan tempat sampah.
Kedua, nonfisik. Kebersihan,
keamanan dan keterbukaan adalah bagian tak terpisahkan dari suksesnya sektor
pariwisata mendatangkan wisatawan. Ketiganya terkait perilaku.
Kapolada Bengkulu,
Brigjen. Pol. Yovianes Mahar dalam suatu kesempatan menyatakan keprihatinannya
dengan tingginya kriminalitas di Bengkulu. Sepanjang 2016, Polda Bengkulu
menangani kasus sebanyak 4.028 kasus. Data jumlah gangguan Kamtibmas tahun 2016
mencapai 676 kasus. Di tahun sebelumnya hanya 309 kasus (Jagratara,
17/01/2017).
Sementara kebersihan?
Tentu masih memerlukan usaha bersama. Memandangnya dari sisi perilaku, kesadaran
membuang sampah atau menyimpan sampah untuk kemudian dibuang ke tempatnya belum
nampak tinggi. Menjadi ironis jika sampah tersebut justru dibuang di area
wisata. Bukannya pemandangan indah yang didapat, justru hal tersebut
meninggalkan kesan tak baik bagi pengunjung.
Peran Masyarakat Bengkulu
Infrastruktur terkait
modal dan lebih banyak diperankan pemerintah. Masyarakat dapat mengambil porsi
besar pada tantangan nonfisik. Jika kita melihat kembali ke belakang, sejarah
mencatat Sadar Wisata dan Sapta Pesona. Semacam sebuah jargon dalam upaya
mewujudkan pariwisata nasional mendunia tahun 91-an. Konon, Sapta Pesona diceritakan berhasil membawa Indonesia
dikenal luas oleh masyarakat dunia. Indikatornya adalah terlampuinya target kunjungan
wisatawan mancanegara kala itu. Apa isinya? Sapta secara etimologi berarti
tujuh sementara pesona adalah daya tarik (diferensiasi). Ringkasnya,
Sapta Pesona adalah jabaran konsep Sadar Wisata yang intinya menyadarkan peran
masyarakat sebagai tuan rumah untuk mendukung kemajuan sektor pariwisata di
daerahnya. Sapta Pesona tersebut adalah keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahan, dan kenangan.
Penulis mencoba
mengerucutkan Sapta Pesona menjadi 3 kelompok. Jika disederhanakan, keamanan,
ketertiban dan keramahan sekiranya serumpun. Sementara, kebersihan, kesejukan
dan keindahan saling berkait. Dan kenangan adalah kesan mendalam.
Di sinilah peran
masyarakat Bengkulu untuk mewujudkan Visit Bengkulu 2020. Menyadari bahwa rumah
kita akan banyak kedatangan tamu, tentunya kita harus memberikan sambutan
terbaik. Diawali dengan keramahan, kebersihan lingkungan, menjaga keamanan dan
memberi kesan mendalam.
Bersama Pasti Bisa
Jika pembangunan
diumpamakan pelayaran, maka tujuannya adalah berlabuh pada sebuah tatanan
masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur. Pelayaran panjang tidak akan bebas
dari ombak dan gelombang. Untuk melewatinya, diperlukan keterpaduan mulai dari
nahkoda hingga juru rawat mesin. Kompas penunjuk arah haruslah presisi, jika
tidak, pelayaran ini akan membawa penumpangnya ke tengah samudra menjauh dari
pelabuhan tujuan.
2020 memang masih relatif
lama. Akan tetapi, persoalan infrastruktur rasanya tidak dapat diselesaikan
dalam waktu singkat. Belum lagi upaya memoles objek wisata yang menjadi
destinasi. Jika persoalan fisik adalah modal yang relatif besar, lain hal
dengan tantangan nonfisik. Perubahan cara pandang, mind set, culture set, untuk menjadi manusia yang ramah dan welcome adalah proses perlahan yang
barangkali membutuhkan waktu. Kita memang diuntungkan dengan image bahwa Indonesia adalah negara yang
ramah. Tapi dengan catatan masih tingginya kriminal, kita sepertinya tidak
dapat terlalu berharap dengan keuntungan itu.
Dengan semua
konstrain yang ada, diperlukan sinergitas semua elemen terkait untuk fokus dan
terpadu. Utamanya pembangunan infrastruktur dan fasilitas pendukung, selain
upaya sosialisasi ke dalam dan promosi ke luar. Harapan besarnya adalah
keberlanjutan, bukan hanya momen 2020, tetapi juga setelahnya. Sehingga, sektor
pariwisata memberi dampak nyata terhadap perbaikan ekonomi Bengkulu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar