"Perubahan itu perlu. Menjadi lebih baik adalah cita-cita mulia. Mari bersama memperbaiki diri, baik sebagai hamba Allah, sebagai Anak, sebagai Suami, sebagai Istri, sebagai Orang Tua atau pun sebagai Aparatur. Berubah menjadi lebih baik itu bukan sebuah hukuman. Justru sebuah berkah untuk kehidupan yang lebih berkualitas"

Minggu, 29 Oktober 2017

Menuju Visit Bengkulu 2020

Sebagian Masyarakat Bengkulu barangkali telah mendengar Visit Bengkulu 2020. Sebuah program pemerintah untuk mengembangkan sektor pariwisata dengan meningkatkan kunjungan wisatawan ke destinasi-destinasi wisata di Bengkulu. Puncak acaranya akan berlangsung pada tahun 2020 ketika Bengkulu genap berusia 52 tahun. Secara ekonomi, program besar tersebut diharapkan memberi efek pengganda ekonomi bagi daerah. Dalam benak penulis, Bengkulu akan menjadi salah satu tujuan wisata ternama. Wisatawan beralalu lalang, akan hilir mudik menyusuri jalan Bengkulu dari satu destinasi ke destinasi yang lain. Wisatawan membeli Lempok Bengkulu, pulang membawa Kain Besurek dan foto destinasi wisata Bengkulu viral di media sosial.

Dengan potensi puluhan objek wisata yang ada, pariwisata memang tergolong rasional menjadi unggulan di Bengkulu. Sepanjang dikelola dengan tepat. Mulai dari wisata alam, wisata budaya dan obyek wisata bersejarah. Pantai panjang dengan bentangan pasir putih 7 km, Bukit Kaba, arung jeram, air terjun, benteng peninggalan penjajah, rumah pengasingan adalah sedikit contohnya. Pertanyaannya, seberapa siap faktor pendukungnya?

Statistik Terkini
Data awal (starting point) diperlukan sebagai pijakan menuju 2020. Menurut Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada yang juga pakar pariwisata, Prof Dr Wiendu Nuryantie, ada tiga parameter penting untuk mengukur kinerja pariwisata, yaitu jumlah kunjungan wisman dan wisnus, lama tinggal, dan jumlah pembelanjaan wisatawan. Jika dua dari tiga parameter menunjukkan kenaikan, itu keberhasilan dari upaya marketing. Sementara rendahnya pembelanjaan wisman, menandakan rendahnya kualitas destinasi (Kompas, 19/10/2010).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan bahwa jumlah tamu yang menginap  di Bengkulu sepanjang 2015 sebanyak 366.888 orang dengan rincian tamu asing sebanyak 838 orang dan sisanya tamu domestik sebanyak 366.050. Sebagai pembanding, jumlah tamu yang menginap di Lampung 3 kali lebih banyak, dengan rincian tamu mancanegara sebanyak 11.139 orang dan tamu domestik sebanyak 1.158.661 orang. Mari kita lirik Bali, sebagai salah satu ikon pariwisata dunia, pada tahun yang sama jumlah tamu yang menginap di Bali lebih dari 5,4 juta orang, hampir 15 kali lebih banyak, dengan rincian tamu asing lebih dari 3,7 juta orang dan tamu domestik sebanyak 1,6 juta-an orang. Hanya Bali yang jumlah tamu mancanegara melebihi tamu domestik.

Parameter berikutnya adalah rata-rata lama tinggal. Pada tahun 2016, rata-rata lama tinggal penghuni kamar hotel berbintang di Bengkulu selama 1,54 hari. Sementara Lampung selama 1,74 hari dan Bali, nyaris dua kali lipatnya, yakni 2,91 hari.  

Parameter terakhir adalah pembelanjaan wisman. Selain menggambarkan kualitas destinasi, parameter pembelanjaan wisman menunjukkan besarnya capital in flow ke daerah. Sayangnya, paramater terakhir ini relatif sulit mendapatkan datanya.

Data penting lainnya adalah Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel. Sepanjang 2016, rata-rata TPK hotel berbintang di Bengkulu sebesar 58,80 persen, lebih tinggi ketimbang Lampung yang terisi sebesar 53,50 persen. Sementara Bali, TPK nya mencapai 61,71 persen. Dengan catatan, jumlah hotel berbintang di Bengkulu sebanyak 8 hotel (147 nonbintang), lebih sedikit ketimbang Lampung sebanyak 12 hotel (227 nonbintang). Sementara Bali, nyaris 36 kali jumlah hotel berbintang di Bengkulu, yakni 281 hotel (1.798 nonbintang).

Tantangan
Melihat data statistik tersebut, rupanya ada tantangan menarik mengejar Bali, atau setidaknya melesat meninggalkan Lampung. Ada beberapa faktor yang memerlukan perhatian serius untuk mewujudkan pariwisata mendunia. Menurut Prof Wiendu, untuk mengelola potensi menjadi destinasi setidaknya diperlukan keterpaduan akses, atraksi, sarana-prasarana, fasilitas pendukung, akomodasi, sumberdaya manusia dan citra atau image.
Visit Bengkulu 2020 sekiranya adalah pintu pembuka bagi masuknya wisman secara berkelanjutan. Sebab, jika menginginkan efek pengganda yang berarti, maka wisman adalah sasaran empuk ketimbang wisatawan domestik apalagi pengunjung lokal. Untuk menarik wisman masuk ke Bengkulu, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. Mantan menteri pariwisata, Jero Wacik, mengatakan bahwa wisman menjadikan Bali sebagai tujuan wisata karena lima kriteria, yaitu kekuatan alam, budaya, manusia yang welcome, makanan, dan value (Kompas, 19/10/2010).

Untuk memenuhi kriteria tersebut kita harus menaklukan semua tantangan yang ada. Penulis membagi tantangan tersebut ke dalam dua kelompok besar, yakni tantangan fisik dan nonfisik. Fisik menyangkut infrastruktur dan nonfisik berkaitan dengan kultur masyarakat yang menciptakan citra/image.

Pertama, fisik. Persoalan klasik infrastruktur tampaknya masih menempati posisi teratas. Setidaknya terkait jalan, angkutan umum, dan kelistrikan. Selain itu, keberadaan fasilitas pendukung juga tak dapat dikecilkan artinya. Fasilitas yang langsung berkenaan dengan objek wisata itu sendiri, seperti ketersediaan mushola, toilet dan tempat sampah.
Kedua, nonfisik. Kebersihan, keamanan dan keterbukaan adalah bagian tak terpisahkan dari suksesnya sektor pariwisata mendatangkan wisatawan. Ketiganya terkait perilaku.
Kapolada Bengkulu, Brigjen. Pol. Yovianes Mahar dalam suatu kesempatan menyatakan keprihatinannya dengan tingginya kriminalitas di Bengkulu. Sepanjang 2016, Polda Bengkulu menangani kasus sebanyak 4.028 kasus. Data jumlah gangguan Kamtibmas tahun 2016 mencapai 676 kasus. Di tahun sebelumnya hanya 309 kasus (Jagratara, 17/01/2017).
Sementara kebersihan? Tentu masih memerlukan usaha bersama. Memandangnya dari sisi perilaku, kesadaran membuang sampah atau menyimpan sampah untuk kemudian dibuang ke tempatnya belum nampak tinggi. Menjadi ironis jika sampah tersebut justru dibuang di area wisata. Bukannya pemandangan indah yang didapat, justru hal tersebut meninggalkan kesan tak baik bagi pengunjung.

Peran Masyarakat Bengkulu
Infrastruktur terkait modal dan lebih banyak diperankan pemerintah. Masyarakat dapat mengambil porsi besar pada tantangan nonfisik. Jika kita melihat kembali ke belakang, sejarah mencatat Sadar Wisata dan Sapta Pesona. Semacam sebuah jargon dalam upaya mewujudkan pariwisata nasional mendunia tahun 91-an. Konon, Sapta Pesona diceritakan berhasil membawa Indonesia dikenal luas oleh masyarakat dunia. Indikatornya adalah terlampuinya target kunjungan wisatawan mancanegara kala itu. Apa isinya? Sapta secara etimologi berarti tujuh sementara pesona adalah daya tarik (diferensiasi). Ringkasnya, Sapta Pesona adalah jabaran konsep Sadar Wisata yang intinya menyadarkan peran masyarakat sebagai tuan rumah untuk mendukung kemajuan sektor pariwisata di daerahnya. Sapta Pesona tersebut adalah keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahan, dan kenangan.
Penulis mencoba mengerucutkan Sapta Pesona menjadi 3 kelompok. Jika disederhanakan, keamanan, ketertiban dan keramahan sekiranya serumpun. Sementara, kebersihan, kesejukan dan keindahan saling berkait. Dan kenangan adalah kesan mendalam.
Di sinilah peran masyarakat Bengkulu untuk mewujudkan Visit Bengkulu 2020. Menyadari bahwa rumah kita akan banyak kedatangan tamu, tentunya kita harus memberikan sambutan terbaik. Diawali dengan keramahan, kebersihan lingkungan, menjaga keamanan dan memberi kesan mendalam.

Bersama Pasti Bisa
Jika pembangunan diumpamakan pelayaran, maka tujuannya adalah berlabuh pada sebuah tatanan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur. Pelayaran panjang tidak akan bebas dari ombak dan gelombang. Untuk melewatinya, diperlukan keterpaduan mulai dari nahkoda hingga juru rawat mesin. Kompas penunjuk arah haruslah presisi, jika tidak, pelayaran ini akan membawa penumpangnya ke tengah samudra menjauh dari pelabuhan tujuan.

2020 memang masih relatif lama. Akan tetapi, persoalan infrastruktur rasanya tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Belum lagi upaya memoles objek wisata yang menjadi destinasi. Jika persoalan fisik adalah modal yang relatif besar, lain hal dengan tantangan nonfisik. Perubahan cara pandang, mind set, culture set, untuk menjadi manusia yang ramah dan welcome adalah proses perlahan yang barangkali membutuhkan waktu. Kita memang diuntungkan dengan image bahwa Indonesia adalah negara yang ramah. Tapi dengan catatan masih tingginya kriminal, kita sepertinya tidak dapat terlalu berharap dengan keuntungan itu.

Dengan semua konstrain yang ada, diperlukan sinergitas semua elemen terkait untuk fokus dan terpadu. Utamanya pembangunan infrastruktur dan fasilitas pendukung, selain upaya sosialisasi ke dalam dan promosi ke luar. Harapan besarnya adalah keberlanjutan, bukan hanya momen 2020, tetapi juga setelahnya. Sehingga, sektor pariwisata memberi dampak nyata terhadap perbaikan ekonomi Bengkulu.

Sebagai masyarakat, mari kita Sadar Wisata. Tanamkan sense of belonging (rasa memiliki). Dan mari mengambil peran mendukung Visit Bengkulu 2020 dengan menjaga keamanan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, serta mendukung Gerakan Toilet Bersih dan Bengkulu Tersenyum. (Diterbitkan Harian Rakyat Bengkulu, 1 April 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar