Belum lepas dari ingatan kita
potongan cerita Pilkada yang telah lalu. Cerita indah bertabur harap dan mimpi.
Cerita yang membawa kita pada sebuah suasana optimisme dan rencana perubahan
yang lebih baik. Cerita yang membuat kita lupa bahwa janji acapkali teringkari
dan harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
Kini,
setelah sekian waktu berlalu, tidaklah terasa, cerita itu terulang kembali. Ya,
cerita Pilkada lagi. Proses panjang pemilihan pemimpin yang membawa kita pada
euforia berbangsa dan bernegara itu kini telah bergulir kembali. Sebagai
masyarakat sekaligus warga negara yang baik, tentu kita tidak akan melewatkan
hak dalam pesta demokrasi tersebut. Satu suara yang kita berikan akan
menentukan arah harapan dan mimpi kita pada sebuah kenyataan lima tahun
mendatang.
Namun
demikian, ada saja masyarakat yang pesimistis terhadap silih bergantinya
pemimpin dewasa ini. Kalangan yang menganggap bahwa proses panjang Pilkada
tidak lebih dari sebuah kompetisi merebut kekuasaan dan adu kuat partai politik
semata. Orasi dan janji hanyalah bumbu lengkap yang menyamarkan rasa asam yang
sesungguhnya. Tidaklah mengherankan jika kalangan yang menganut paham ini lebih
memilih tidak ambil bagian ketimbang mencoba mengadu harap yang mereka yakini
tidak akan mengubah nasibnya.
Pesimisme
yang lebih menyedihkan adalah terbetuknya pola fikir bahwa uang adalah
segalanya. Masyarakat pada kelompok ini sudah melupakan cara cerdas memilih
pemimpin, mengabaikan latar belakang dan track record, serta yang
terburuk adalah melupakan masa depan bangsa ini. Dengan kata lain, pemilih
dengan paham ini hanya akan memberi suara ketika mereka diberikan sejumlah
uang.
Bukan
tanpa alasan prihal ini terjadi. Bobroknya kualitas kinerja pemimpin kita
seolah mengikis rasa percaya masyarakat terhadap sebuah perubahan yang
senantiasa dijanjikan. Pragmatisme dalam bernegara seolah terbentuk dari
gagalnya pemimpin membawa masyarakat pada kehidupan yang lebih baik. Praktik
korupsi, kolusi dan nepotisme seolah menambah panjang daftar alasan untuk tidak
percaya terhadap manisnya janji-janji. Mewabahnya politik uang menambah alot
lingkaran setan kemelaratan dan kemiskinan di negeri ini. Jika sudah begini,
generasi mendatang tidak akan mendapat cerita indah demokrasi kita kecuali
setumpuk potret suram demokrasi, politik uang dan kemelaratan yang termuat
dalam buku sejarah.
Karenanya,
proses panjang Pilkada yang puncaknya pada ujung tahun ini, kita jadikan
sebagai momentum memoles ulang wajah demokrasi kita yang mulai terlihat samar
khususnya di Provinsi Bengkulu. Setelahnya, mari kita berharap. Harapan yang
sudah sepatutnya diiringi dengan usaha. Sebagai masyarakat yang cerdas, mari
kita gunakan hak suara kita dengan setepat-tepatnya. Utamanya kepada kaum muda,
mari kita bersinergi menemukan pemimpin yang berfikir out of the box,
bukan yang hanya pandai mengajak kita terbang pada tataran teori dengan
segudang janji yang tidak jelas cara menepatinya.
Sesungguhnya,
kita tidak sedang mencari pemimpin yang bekerja seadanya, tidak punya
terobosan, pewaris feodalisme, dan hanya menjadi penghangat kursi sebagai
penguasa. Ingatlah, sudah tujuh dekade Indonesia merdeka dan fakta bahwa
Bengkulu belum juga beranjak dari posisi buncit propinsi termiskin di Sumatera
bukanlah sebuah kado istimewa di hari ulang tahun kemerdekaan negara kita yang
ke-70.
Mari
berharap pada gelaran Pilkada kali ini bahwa kita akan menemukan pemimpin yang
mampu mengembalikan rasa optimis yang sempat meredup. Pemimpin yang dapat
mengubah setiap harapan yang dibuat rakyatnya mendekati kenyataan. Pemimpin
yang dapat mengembalikan semangat juang untuk kemajuan dan kebangkitan bersama
dari keadaan buruk ini. Bukan pemimpin yang membiarkan rakyatnya menikmati
suguhan opera tentang kemajuan, kekayaan atau kejayaan suatu golongan tertentu
saja.
Semoga Pilkada Bengkulu kali ini melahirkan
pemimpin-pemimpin yang menjadi harapan kita bersama. Pemimpin yang lebih baik
dari Risma-nya Surabaya, Ridwan Kamil-nya Bandung, Ahok-nya Jakarta atau Azwar
Anas-nya Banyuwangi. Pemimpin yang berintegritas, merakyat, visioner, out of
the box, dan pemimpin yang bekerja sepenuh hati semata untuk kesejahteraan
rakyatnya. *TJ (Diterbitkan Harian Rakyat Bengkulu 31 Agustus 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar