"Perubahan itu perlu. Menjadi lebih baik adalah cita-cita mulia. Mari bersama memperbaiki diri, baik sebagai hamba Allah, sebagai Anak, sebagai Suami, sebagai Istri, sebagai Orang Tua atau pun sebagai Aparatur. Berubah menjadi lebih baik itu bukan sebuah hukuman. Justru sebuah berkah untuk kehidupan yang lebih berkualitas"

Sabtu, 26 September 2015

Pilkada Bengkulu : Berharap Yang Istimewa, Bukan Yang Biasa




Belum lepas dari ingatan kita potongan cerita Pilkada yang telah lalu. Cerita indah bertabur harap dan mimpi. Cerita yang membawa kita pada sebuah suasana optimisme dan rencana perubahan yang lebih baik. Cerita yang membuat kita lupa bahwa janji acapkali teringkari dan harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. 

Kini, setelah sekian waktu berlalu, tidaklah terasa, cerita itu terulang kembali. Ya, cerita Pilkada lagi. Proses panjang pemilihan pemimpin yang membawa kita pada euforia berbangsa dan bernegara itu kini telah bergulir kembali. Sebagai masyarakat sekaligus warga negara yang baik, tentu kita tidak akan melewatkan hak dalam pesta demokrasi tersebut. Satu suara yang kita berikan akan menentukan arah harapan dan mimpi kita pada sebuah kenyataan lima tahun mendatang.

Namun demikian, ada saja masyarakat yang pesimistis terhadap silih bergantinya pemimpin dewasa ini. Kalangan yang menganggap bahwa proses panjang Pilkada tidak lebih dari sebuah kompetisi merebut kekuasaan dan adu kuat partai politik semata. Orasi dan janji hanyalah bumbu lengkap yang menyamarkan rasa asam yang sesungguhnya. Tidaklah mengherankan jika kalangan yang menganut paham ini lebih memilih tidak ambil bagian ketimbang mencoba mengadu harap yang mereka yakini tidak akan mengubah nasibnya.

Pesimisme yang lebih menyedihkan adalah terbetuknya pola fikir bahwa uang adalah segalanya. Masyarakat pada kelompok ini sudah melupakan cara cerdas memilih pemimpin, mengabaikan latar belakang dan track record, serta yang terburuk adalah melupakan masa depan bangsa ini. Dengan kata lain, pemilih dengan paham ini hanya akan memberi suara ketika mereka diberikan sejumlah uang. 

Bukan tanpa alasan prihal ini terjadi. Bobroknya kualitas kinerja pemimpin kita seolah mengikis rasa percaya masyarakat terhadap sebuah perubahan yang senantiasa dijanjikan. Pragmatisme dalam bernegara seolah terbentuk dari gagalnya pemimpin membawa masyarakat pada kehidupan yang lebih baik. Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme seolah menambah panjang daftar alasan untuk tidak percaya terhadap manisnya janji-janji. Mewabahnya politik uang menambah alot lingkaran setan kemelaratan dan kemiskinan di negeri ini. Jika sudah begini, generasi mendatang tidak akan mendapat cerita indah demokrasi kita kecuali setumpuk potret suram demokrasi, politik uang dan kemelaratan yang termuat dalam buku sejarah. 

Karenanya, proses panjang Pilkada yang puncaknya pada ujung tahun ini, kita jadikan sebagai momentum memoles ulang wajah demokrasi kita yang mulai terlihat samar khususnya di Provinsi Bengkulu. Setelahnya, mari kita berharap. Harapan yang sudah sepatutnya diiringi dengan usaha. Sebagai masyarakat yang cerdas, mari kita gunakan hak suara kita dengan setepat-tepatnya. Utamanya kepada kaum muda, mari kita bersinergi menemukan pemimpin yang berfikir out of the box, bukan yang hanya pandai mengajak kita terbang pada tataran teori dengan segudang janji yang tidak jelas cara menepatinya. 

Sesungguhnya, kita tidak sedang mencari pemimpin yang bekerja seadanya, tidak punya terobosan, pewaris feodalisme, dan hanya menjadi penghangat kursi sebagai penguasa. Ingatlah, sudah tujuh dekade Indonesia merdeka dan fakta bahwa Bengkulu belum juga beranjak dari posisi buncit propinsi termiskin di Sumatera bukanlah sebuah kado istimewa di hari ulang tahun kemerdekaan negara kita yang ke-70.

Mari berharap pada gelaran Pilkada kali ini bahwa kita akan menemukan pemimpin yang mampu mengembalikan rasa optimis yang sempat meredup. Pemimpin yang dapat mengubah setiap harapan yang dibuat rakyatnya mendekati kenyataan. Pemimpin yang dapat mengembalikan semangat juang untuk kemajuan dan kebangkitan bersama dari keadaan buruk ini. Bukan pemimpin yang membiarkan rakyatnya menikmati suguhan opera tentang kemajuan, kekayaan atau kejayaan suatu golongan tertentu saja.
Semoga Pilkada Bengkulu kali ini melahirkan pemimpin-pemimpin yang menjadi harapan kita bersama. Pemimpin yang lebih baik dari Risma-nya Surabaya, Ridwan Kamil-nya Bandung, Ahok-nya Jakarta atau Azwar Anas-nya Banyuwangi. Pemimpin yang berintegritas, merakyat, visioner, out of the box, dan pemimpin yang bekerja sepenuh hati semata untuk kesejahteraan rakyatnya. *TJ (Diterbitkan Harian Rakyat Bengkulu 31 Agustus 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar