"Perubahan itu perlu. Menjadi lebih baik adalah cita-cita mulia. Mari bersama memperbaiki diri, baik sebagai hamba Allah, sebagai Anak, sebagai Suami, sebagai Istri, sebagai Orang Tua atau pun sebagai Aparatur. Berubah menjadi lebih baik itu bukan sebuah hukuman. Justru sebuah berkah untuk kehidupan yang lebih berkualitas"

Minggu, 29 Oktober 2017

Lagi-Lagi Rokok

Persoalan rokok kembali menghangat. Setidaknya dalam dua minggu terakhir. Ingar bingar pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) menjadi pemicunya.

Konsumsi rokok memang sebuah fenomena yang mengkhawatirkan. Fakta bahwa kebiasaan merokok menjadi penyebab puluhan penyakit tak jua menekan konsumsi rokok. Tahun lalu, The Jakarta Post merilis berita bahwa Indonesia menempati peringkat empat perokok terbanyak setelah China, Russia dan Amerika Serikat. Sumber lain menyebutkan, perilaku merokok penduduk 15 tahun ke atas masih belum terjadi penurunan, cenderung meningkat dari 34,2 persen tahun 2007 menjadi 36,3 persen tahun 2013. Sementara dari sisi pekerjaan, proporsi perokok terbesar adalah petani/nelayan/buruh yang notabenenya berkelindan dengan kemiskinan.
Bengkulu sendiri tak lepas dari polusi asap rokok. Sekitar 30,4 persen penduduk 10 tahun ke atas adalah perokok. Dari jumlah tersebut, 27,1 persen adalah perokok setiap hari dan sisanya, 3,3 persen, adalah perokok kadang-kadang. Soal persentase perokok setiap hari, Bengkulu hanya kalah tipis dengan Kepulauan Riau, yakni sebesar 27,2 persen (Riskesdas, 2013).

Belajar Sedikit dari Tetangga

Untuk orang Indonesia, negara ini tidak asing. Sepanjang 2016, pengunjung terbesar negara ini berasal dari Indonesia, disusul China dan Malaysia. Sebenarnya bukan hanya sebagai turis, beberapa koruptor Indonesia juga senang menetap di negara berpenduduk 5,6 juta jiwa ini, sebut saja Agus Anwar, salah satu koruptor kakap yang merugikan negara sekitar 12 triliun. Nunun Nurbaeti dan Nazarudin juga pernah melancong ke negeri ini setelah diburu KPK.
Wilayah negara ini relatif kecil. Sedikit lebih luas dari Kabupaten Kepahiang. Sementara jumlah penduduknya relatif banyak sehingga density-nya cukup padat, yakni sekitar 7,8 ribu jiwa per km persegi. Penduduk di negeri ini terbagi tiga kategori: penduduk asli (60,79 persen), penduduk tetap (9,36 persen), dan penduduk tidak tetap (29,85 persen). Bandingkan dengan kepahiang, dengan luas yang hampir sama, kepadatan penduduknya hanya sekitar 200 jiwa saja per km persegi. Can you imagine betapa luasnya negeri kita, Indonesia. Saking luasnya, halaman rumah kita banyak yang berupa kebon hehe…
Negara mini ini bernama Singapura. Batam adalah pulau terdekat dengan Singapura. Waktu tempuh dari Batam sekitar 1 jam bersama Ferry, tergantung dari pelabuhan mana. Meski mini, daya ekonominya maksi. PDB per kapita negara mungil ini sekitar 15 kali lipat dari PDB per kapita nasional. Leading sector jelas bukan pertanian seperti kita, karena negara ini hampir tak ada lahan pertanian natural. Jasalah yang menjadi sektor terdepan mendongkrak ekonomi negara Singa ini, lalu disusul manufaktur dan sektor lainnya. Mereka memiliki salah satu pelabuhan internasional tersibuk yang menjadi motor utama perdagangannya. Itulah mengapa negara berpenduduk mayoritas Chinese ini adalah sedikit di Asia Tenggara yang tergolong negara maju. Apakah ada orang melayu? Ada, tapi jumlahnya tak banyak, sekitar 13 persen saja. Sisanya India dan etnis lainnya.

Minggu, 19 Maret 2017

Berhenti Merokok, Berhenti Miskin?

Rokok dan kemiskinan menjadi topik hangat akhir-akhir ini. Fakta bahwa rokok menjadi penyumbang pengeluaran penduduk terbesar kedua setelah beras menjadikan perkara tersebut semakin menarik. Lantas benarkah jika berhenti merokok berhenti miskin?

Berdasarkan rilis berita resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu awal Januari 2016 yang lalu, dengan garis kemiskinan sebesar Rp 410.840, persentase jumlah penduduk miskin di Bengkulu September 2015 sebesar 17,16 persen. Jumlah tersebut meningkat year on year  sebesar 0,07 persen dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin September 2014 sebesar 17,09 persen. Angka tersebut pula yang membawa Bengkulu berada di urutan keenam sebagai provinsi termiskin secara nasonal dan urutan pertama se-Sumatera. Meskipun sejatinya, ada penurunan jumlah penduduk miskin selama kurun waktu lima tahun terakhir.