Persoalan
rokok kembali menghangat. Setidaknya dalam dua minggu terakhir. Ingar bingar
pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Kawasan Tanpa Rokok
(KTR) menjadi pemicunya.
Konsumsi rokok memang
sebuah fenomena yang mengkhawatirkan. Fakta bahwa kebiasaan merokok menjadi
penyebab puluhan penyakit tak jua menekan konsumsi rokok. Tahun lalu, The
Jakarta Post merilis berita bahwa Indonesia menempati peringkat empat perokok
terbanyak setelah China, Russia dan Amerika Serikat. Sumber lain menyebutkan, perilaku merokok penduduk 15 tahun ke atas masih belum
terjadi penurunan, cenderung meningkat dari 34,2 persen tahun 2007 menjadi 36,3
persen tahun 2013. Sementara dari sisi pekerjaan, proporsi perokok terbesar
adalah petani/nelayan/buruh yang notabenenya berkelindan dengan kemiskinan.
Bengkulu sendiri tak
lepas dari polusi asap rokok. Sekitar 30,4 persen penduduk 10 tahun ke atas
adalah perokok. Dari jumlah tersebut, 27,1 persen adalah perokok setiap hari
dan sisanya, 3,3 persen, adalah perokok kadang-kadang. Soal persentase perokok
setiap hari, Bengkulu hanya kalah tipis dengan Kepulauan Riau, yakni sebesar
27,2 persen (Riskesdas, 2013).

