Tidak dapat dikilah,
lebih dari separuh penduduk yang bekerja di negeri ini merajut asa di sektor
pertanian. Tidak terkecuali di Bengkulu. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja
Nasional (Sakernas) terkini, setidaknya 50,61 persen pekerja di Bengkulu adalah
petani. Umumnya, para petani ini tinggal di wilayah pedesaan yang jauh dari
kesan berkemajuan. Merekalah yang hujan kepanasan, panas kehujanan, berjibaku
menyediakan kebutuhan dasar perut manusia perkotaan. Sangat naif, jika kita tak
sengaja melupakan nasib para petani.
Vitalnya peran sektor
pertanian tergambar pula dari kontribusinya terhadap Pendapatan Domestik
Regional Bruto (PDRB) di Bengkulu. Pada tahun 2015 saja, kontribusi sektor
pertanian terhadap PDRB tidak kurang dari 30 persen. Bahkan, angka tersebut dua
kali lipat lebih tinggi dari sektor perdagangan dan reparasi yang menempati
posisi dua kontributor terbesar terhadap PDRB. Fakta tersebut jelas membuka
mata kita bahwa melupakan petani adalah sebuah kekeliruan.
Sayangnya, pertumbuhan
sektor pertanian di Bengkulu semakin hari semakin menurun. Sepanjang 2015,
sektor turunan nenek moyang ini hanya tumbuh sebesar 2,30 persen. Angka tersebut
sejatinya cukup jauh merosot
ketimbang tiga tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 5,53 persen. Boleh
jadi hal tersebut sebagai akibat anomali perekonomian dunia yang cenderung
labil beberapa tahun terakhir. Keadaan
tersebut berimbas pada turunnya harga komoditas
pertanian, seperti kelapa sawit dan karet yang merupakan komoditi dengan
potensi cukup besar di Bengkulu. Atau alasan lain karena datangnya el nino tahun
lalu sehingga berpengaruh terhadap produksi dan pendapatan petani. Apapun
alasannya, satu hal yang pasti, petani kita sedang menderita.
Derita itu semakin
jelas terlihat dari tren menurunnya angka statistik Nilai Tukar Petani (NTP).
Rata-rata NTP di Bengkulu tiga
tahun terakhir tidak pernah menyentuh 100. Angka tersebut seyogyanya membuat
kita bersedih. Bagaimana mungkin sektor yang menyerap lebih dari separuh tenaga
kerja ini membuat rugi pekerjanya. Bagaimana mungkin kesejahteraan petani akan
membaik jika pengeluaran usaha bertaninya lebih besar ketimbang hasil yang
didapat dari penjualan produksinya. Perjuangan keluar dari belenggu kemiskinan
jelas tidak akan mudah
jika daya beli petani terus menurun sementara harga-harga kebutuhan hidup semakin
membumbung tinggi. Utamanya petani gurem --petani dengan lahan kurang dari 0,5
hektare-- yang jumlahnya berkisar
13 persen dari seluruh rumah tangga usaha pertanian.
Peduli Petani, Entaskan Kemiskinan
Berdasarkan
data yang ada, karakteristik pekerjaan lebih dari separuh kepala
rumah tangga miskin adalah petani. Sehingga, upaya mengeluarkan Bengkulu dari
papan atas provinsi termiskin jelas
tidak akan berjalan mulus jika persoalan yang dihadapi petani tidak mendapatkan
sentuhan kebijakan yang tepat oleh pemerintah. Apalagi dengan keadaan yang
serba sulit saat ini, lahirnya kebijakan pro rakyat, utamanya pro petani kecil
sangat dinantikan. Kebijakan yang diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup petani yang umumnya bermukim
di pedesaan. Sehingga, para petani tidak terseret ke jurang kemiskinan atau tidak
terperosok semakin dalam.
Karenanya, pembangunan
infrastruktur pertanian harus tetap dilakukan dengan terencana. Selain perluasan lahan, fokus
pembangunan dan perbaikan irigasi adalah perkara wajib dilakukan untuk menjaga
ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Tidak sukar
kalkulasi peningkatan produksi dan kesejahteraan 36 persen petani tanaman
pangan jika irigasi dibangun dengan sistemik dan terencana. Khusus sub sektor
perkebunan, dalam pengaruh ekonomi global, meningkatkan harga komoditi tentu
bukan perkara mudah. Akan tetapi menjaga tanaman agar tetap tumbuh dengan
kualitas optimal perlu terus dilakukan. Untuk itu, diperlukan pengawasan dan perhatian serius guna memastikan ketersediaan
pupuk yang berkecukupan dengan harga yang wajar. Untuk subsektor perikanan,
potensi terbesar adalah perikanan tangkap di laut, mengingat garis pantai yang
mencapai 525 km.
Pembuatan rumpon yang dilakukan tempo hari hendaknya diikuti juga oleh daerah
lain. Pembuatan rumah ikan tersebut dapat menekan biaya operasional serta
meningkatan produksi yang berujung pada perbaikan pendapatan nelayan.
Berbagai program bantuan
untuk petani, baik berupa peralatan, benih, bibit, pupuk maupun kredit usaha sebaiknya
dikaji secara matang. Bantuan tersebut
harus menyasar kepada petani kecil yang tak tersentuh oleh pinjaman lunak
dengan syarat ala perbankan. Petani kecil dengan pendidikan dan skill yang
sangat terbatas. Petani-petani inilah yang
seharusnya mendapatkan perhatian lebih, petani berlahan sempit yang tak punya
banyak pilihan. Petani berlahan minim yang begitu lekat dengan kemiskinan.
Oleh
karenanya, hal pertama yang harus dibenahi adalah akurasi
data petani gurem yang menjadi target bantuan. Ketepatan
sasaran adalah kunci keberhasilan program bantuan yang dibuat. Penyaluran
bantuan kepada petani juga harus disertai
bimbingan berkelanjutan dan pengawasan ketat dengan laporan
yang jelas dan akurat sehingga bantuan
benar-benar sesuai peruntukannya. Hal tersebut sangat penting dilakukan agar bantuan yang disalurkan tidak berakhir sia-sia.
Selain
itu,
intervensi pemerintah melalui program raskin tepat sasaran dengan porsi
yang tak terbagi masih sangat diperlukan untuk menjaga daya
beli petani. Sebab sudah menjadi rahasia umum, jika pembelian beras merupakan pengeluaran terbesar
rumah tangga miskin. Dengan adanya program raskin dan program perlindungan
sosial lain yang menyasar rumah tangga miskin akan sangat membantu ketersediaan
ruang belanja untuk kebutuhan lain.
Dalam jangka panjang,
fokus membangun fasilitas dasar
pendidikan dan kesehatan di pedesaan dengan standar pelayanan yang memadai serta
bebas biaya adalah sebuah langkah jitu dalam upaya menekan pengeluaran petani,
khususnya petani yang terdaftar sebagai rumah tangga miskin. Dengan membebaskan biaya berobat dan
biaya sekolah untuk petani tersebut, maka seketika itu pemerintah telah
berhasil menekan pengeluaran sekaligus membuka jalan seluas-luasnya kepada
anak-anak petani miskin untuk memutus rantai kemiskinan dengan menempuh
pendidikan yang setinggi-tingginya. Yang perlu menjadi catatan, gratis biaya
sekolah yang dimaksud di sini merujuk pada pembebasan biaya dari segala bentuk
pungutan, baik untuk seragam sekolah, uang komite, biaya buku, dan iuran
lainnya. Bahkan, bila memungkinkan diberikan asrama dan beasiswa untuk menjaga prestasi siswa tetap kompetitif.
Teori yang mengatakan
pendapatan berbanding lurus dengan tingkat pendidikan bukanlah bualan.
Berdasarkan data yang ada, lebih dari 90 persen kepala rumah tangga miskin
adalah mereka yang berpendidikan SMP ke bawah. Karenanya, program pendidikan
gratis untuk masyarakat miskin akan sangat membantu petani dalam upaya menjaga
daya belinya sekaligus memutus rantai kemiskinan dengan menyekolahkan anaknya
ke jenjang tertinggi. Nun di kabupaten paling selatan, adanya sekolah berasrama
dan beasiswa untuk anak-anak kurang mampu sepatutnya diteladani oleh daerah
lain. Meskipun pengentasan kemiskinan dengan cara ini tidak akan instan
dirasakan hasilnya tetapi dalam jangka waktu tertentu jerat kemiskinan akan
berangsur-angsur terputus seiring dengan perbaikan tingkat pendidikan dan
pendapatan generasi penerus dari rumah tangga miskin tersebut.
Karenanya, maksud dan
tujuan pemerintah meningkatkan
porsi belanja daerah untuk pembangunan infrastruktur pro rakyat haruslah mendapatkan dukungan semua pihak. Dengan
semangat nawacita ketiga, membangun Indonesia
dari pinggiran, sudah sepantasnya pembangunan infrastruktur dimulai di pedesaan
yang menjadi basis petani miskin. Apalagi infrastruktur tersebut dibangun untuk
meningkatkan layanan dasar terkait pendidikan dan kesehatan di daerah-daerah
pedesaan. Dengan kesehatan dan pendidikan yang tinggilah, maka akan lahir
generasi baru yang terbebas dari belenggu kemiskinan. Akan menjadi sebuah kebingungan
jika masih ada pihak-pihak yang bertentangan dengan semangat pembangunan pro
rakyat yang sedang dicanangkan. Semoga Petani
di Bengkulu sejahtera merata, entas dari kemiskinan.
Bersama Ayo Kerja! (Diterbitkan Harian Rakyat Bengkulu, 18 April 2016)

Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.
BalasHapusNama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.
Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.
Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.
Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut